Sedih

Ada seorang yang setiap hari wajahnya selalu cemberut dan bersedih, tidak dapat makan, tidak dapat tidur, tubuhnya kurus kering, jika ada angin kencang maka dia akan tertiup terbang.

Malaikat melihatnya dalam hatinya tidak tega, lalu bertanya kepada orang ini “Kenapa engkau setiap hari sedih? Ada hal apakah yang menimbulkan kesedihanmu, sehingga wajahmu setiap hari cemberut?”
Orang ini menjawab “Ada orang yang mengatakan bahwa permata matahari dan permata bulan adalah harta yang tak ternilai harganya, kapankah saya bisa mendapatkannya?”
Malaikat sangat iba kepadanya, memutuskan akan memenuhi permintaannya dan menjelma batu permata matahari dan batu permata  bulan kepadanya. Tetapi tidak berapa lama kemudian, malaikat melihat orang ini tetap bersedih, malahan lebih kurus dan mengenaskan daripada dahulu.Malaikat bertanya kepadanya lagi, “ Ada apa dengan dirimu? Kenapa engkau bersedih lagi?”
Orang ini dengan mengeryitkan dahinya sambil berkeluh kesah berkata :” Aduh! Setiap hari setiap saat saya selalu khawatir bisa kehilangan batu permata saya!”
Malaikat membentangkan kedua tangannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berkata :”Ketika belum mendapatkannya, dengan sedih memikirkannya kenapa belum mendapatkannya? Setelah mendapatkannya,lalu takut kehilangan, orang yang seperti dirimu, bagaimana bisa mendapatkan kebahagian dan kegembiraan?”
Masih ada sebuah cerita lagi, ada seorang yang miskin setiap hari bermain piano sambil menyanyi, dia sangat gembira. Tetangga kaya yang tinggal diseberang rumahnya sangat menggagumi dia, memberikan setumpuk uang kepadanya, meminta dia mengajarkan kepadanya cara berbahagia, tetapi tidak disangka mulai saat itu si miskin tidak gembira lagi. Kebahagiaan yang sejati berasal dari lubuk hati, barang berharga apapun tidak dapat  menggantikan dan menjadi sumber kebahagiaan.

Sumber: http://erabaru.net/cerita-budi-pekerti/71-cerita-budi-pekerti/27269-sedih

Pentingnya Menepati Janji

Dahulu kala, sangat sedikit orang asing yang berkunjung ke daerah selatan Gunung Himalaya Nepal. Kemudian, banyak orang Jepang datang. Menurut cerita, mereka tertarik oleh sebuah kisah tentang seorang anak muda Nepal yang teguh menepati janjinya.
Lebih dari satu dekade yang lalu, pada suatu hari, beberapa fotografer Jepang mengambil foto di daerah pegunungan Nepal untuk proyek mereka. Mereka berkunjung ke sebuah desa di ketinggian 1500 meter. Desa ini tidak memiliki air, listrik atau jalan yang bisa dilalui mobil. Setelah bekerja keras, mereka ingin minum bir untuk menghangatkan badan. Karena harus melalui jalan gunung yang berbahaya, mereka sebisa mungkin mengurangi beban yang dibawa, sehingga mereka tidak membawa satu botol birpun selama perjalanan.enerjemah, Qi mengatakan kepada fotografer bahwa dia bisa turun ke desa kecil di kaki gunung untuk membeli bir Jerman untuk mereka. Fotografer merasa ragu-ragu pada awalnya. Jarak desa itu sangatlah jauh. Tapi Qi bersikeras bahwa ia cepat dan bisa kembali sebelum gelap. Benar saja, Qi datang sebelum gelap dengan lima botol bir dalam tas kanvas kecilnya.
Keesokan harinya, Qi secara sukarela membeli bir untuk para fotografer lagi. Para fotografer memberinya uang lebih banyak dan tas kanvas yang lebih besar. Namun, Qi tidak kembali malam itu. Keesokan paginya ketika fotografer bertanya tentang dirinya, para penduduk desa mengatakan bahwa Qi mungkin telah melarikan uang mereka.
Penduduk desa bercerita bahwa rumah Qi sebenarnya berada di desa lain dan ia hanya belajar di desa ini. Fotografer merasa menyesal. Mereka berpikir seharusnya mereka tidak mencemari kemurnian anak-anak dengan uang.
Di tengah malam, mereka mendengar ketukan di pintu. Ketika membuka pintu, mereka melihat Qi dengan badan penuh lumpur. Seluruh pakaiannya compang-camping dan terdapat memar di sekujur tubuhnya. Qi menjelaskan bahwa ia hanya bisa membeli empat botol bir di desa pertama. Ia harus mendaki gunung lagi agar sampai di sebuah desa lain untuk membeli enam botol sisanya. Sayangnya, ia jatuh dan memecahkan tiga botol bir yang dibawanya. Qi kemudian menyerahkan bir, uang kembalian dan botol bir yang pecah kepada mereka.
Para fotografer Jepang ini sangat terharu. Mereka menutup wajah mereka dengan tangan dan menangis. Mungkin mereka malu karena telah meragukan kejujuran Qi. Cerita ini kemudian tersebar di Jepang. Setiap orang yang mendengarnya sangat tersentuh dan ingin bertemu dengan remaja sederhana ini yang dengan teguh menepati kata-katanya. Mereka tertarik mengunjungi daerah pegunungan di mana ia dibesarkan. Akibatnya, seiring waktu, kian banyak wisatawan Jepang yang datang ke daerah ini.
Wang Zhenyang

Baru-baru ini, seorang pemuda, Wang Zhengyang, dari Sichuan menceritakan sebuah kisah tentang bagaimana ia menepati janjinya. Wang Zhengyang baru saja lulus dari Sekolah Bahasa Asing Chengdu tahun ini. Saat ini, Ia sedang melanjutkan studinya di Swarthmore College di Amerika Serikat. Dulu saat ia baru lulus sekolah, ia mengajukan permohonan beaswiswa ke berbagai universitas ternama di Amerika. Pada Tahun Baru China ini, dia mendapatkan beasiswa sebesar $ 44.670 dari Swarthmore karena prestasinya yang gemilang. Karena memutuskan untuk menerima beasiswa dari Swarthmore College ini, ia menulis surat ke perguruan tinggi lainnya, termasuk Harvard University, untuk menghentikan proses aplikasi lamarannya.

Namun, pada bulan Maret, Wang Zhengyang menerima surat penerimaan dari Harvard University, dan bersama beasiswa sejumlah $ 59,350. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak pergi ke Harvard karena dia sudah menyetujui tawaran Swarthmore College. Guru Wang, Sun Jiling, tidak terkejut sama sekali dan berkata: "Dia tidak membuat janji dengan mudah, tapi begitu Ia membuatnya, dia akan menepatinya hingga akhir."
Pada masa Tiongkok kuno, ada perkataan seperti ini: "Sekali sepatah kata terucap, bahkan empat ekor kuda tidak bisa membawanya kembali," dan "sebuah janji bernilai seribu keping emas."
Orang jaman dahulu menaruh perhatian besar dalam hal memegang janji. Qi Duoli dan Wang Zhengyang adalah pemuda dari negara yang berbeda, namun komitmen mereka untuk menepati janji menunjukkan nilai dari sifat karakter mulia ini.

Sumber: http://erabaru.net/cerita-budi-pekerti/71-cerita-budi-pekerti/26780-pentingnya-menepati-janji

.::(Interna) JAGA UMUM::.

Holaaaaa....
@RSUD Banjarnegara

Akhirnya melihat jogja juga, setelah 2 minggu waktu yang "menyenangkan" di Banjarnegara.. (menyenangkan situasinya, orang2nya, apalagi makanannya) hahaha....
Setelah duduk sempit2an di travel selama 4 jam kos ku terlihat juga.... aaa..senengnya.. tapi ternyata... (lho!) koq sepi?? lampu pada mati...kamar kosong...! nah lho, kemana semua anak kos??? dan...saya baru inget, ternyata ini liburan semester+libur puasa.... sepi benerrrr  kosnya... Kecuali saya, seorang ibu S2 dan seorang lagi residen.. bisa dibayangin dong sepinya kos2an 17 kamar yang sekarang cuma dihuni sama 3 orang doang! hahaha... Untunglah,,,minggu ini mulai jaga Umum di bangsal...

Nah, minggu pagi kita ke sardjito, berharap gak telat untuk ikut visit bareng residen dan staf... Jam 7.02 di alat "thank-you" (finger print buat absen.red) :)) gak terlalu telat ternyata...lagian minggu sepi dan dokter2nya gak banyak yang jaga... Kita kumpul di ruang koas dan ...bingung mau ngapain.. Akhirnya temen saya nanyain tentang keberadaan kita disini, mau ngapain dan musti lapor kemana....? Ya sudah, akhirnya ketemu residen chiefnya...lapor kalo kita koas baru yang jaga mulai minggu ini sampai 1 minggu ke depan. Trus dokternya nanyain " kalian udah offeran tugas dengan koas sebelumnya?" nah lhoo..kita yg gak tau apa2 tentang Jagum (jaga umum.red) ditanyain soal oper2an.. mana kita tau! (emang wajib tau siii sebenernya) ya sud, kita hubungi temen kita, dapet info ada kakak kelas yg lagi jagum minggu kemaren dan ternyata mereka diam2 pergi gitu aja, dan tugasnya belum di oper ke kitaaa...ditambah lagi buku register pasien baru gak tau dimana, sementara kita koas pertama 2007 di interna daaaannnnnn interna ini stase pertama... Miris!!!
Ya sud, residennya gak bilang apa2 lagi, kita juga 'manut' aja dengan dokternya..terserah mereka deh, toh koas jadi masyarakat kelas terendah di sini.. :)

Kita akhirnya ikut residen aja... mereka ngomong apa kita ngikut aja... Kedengaran siiii mereka gak peduli dengan koas, yaaaa... mereka pikir "silahkan deh mau buat apa aja,,,toh, kalo kalian bisa untung di kalian"..(kayaknya lho!) soalnya,,, nama koas sempet gak baik gara2 sering kabur2an dari jaga umum, gak mau ngecek pasien, dicariin dokternya gak ada... de el el sifat koas yang membuat mereka gak seneng...dan gak peduli dengan koas...
Yah, karna itulah malam ini kita bela-belain pindahin kos ke sini demi jaga umum.. :) biarpun harus sempit2an, gk jelas mau ngapain, yg penting setor muka dulu deh.. urusan belakangan besok aja.. hahaha..
Good nite everyone..
Good nite my love, Friedman..
God Bless you all....

*hugs&kisses*

up