Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Rage Comics... KOAS! Part II

Ini lanjutan dari Rage Comics... KOAS! Part I sebemnya!
Enjoy it!
:)












*hugs&kisses*

Rage Comics... KOAS! Part I

Mungkin sebagian udah kenal websitenya Koas Racun yaa? apa ada yang belum?
hahaha..
Jadi itu salah satu website koas galau, yg curhat ttg pengalaman koas.. Lucu?! gak! tapi gilaaaa..hahaha, kreatip..kreatipp!!!
Nah, kmrn sempet liat poto2 komik gitu di albumnya mereka, ini saya posting lagi yaa! (tapi sebagian doang) :p





*hugs&kisses*

(Neurology) "You are What you Think!"

 Minggu lalu ketika saya bersama 4 orang teman lain stase saraf di Banyumas, tak sengaja mendapat seorang pasien, laki-laki yang sedang kuliah di salah satu Universitas Swasta di Jawa Tengah diantar oleh ibunya. Pasien tersebut datang dengan keluhan sakit kepala yang kambuh-kambuhan, rasanya cekot-cekot disertai leher yang tegang. Memang sebulan lalu pasien ini mendapat perawatan atas kecelakaan lalu lintas yang dialami.

Setelah dilakukan anamnesis mendalam dengan pasien dan tampak sekali sang ibu menguasai anamnesis yang seharusnya dijawab sendiri oleh sang anak, ternyata pasien itu termasuk salah satu dari 95% pasien headache karena psikosomatis. Yap! gampangnya sakit kepala karena pikiran..  Konon, pasien tersebut merasa sangat di atur oleh orang tuanya. Dia menceritakan kalau dia dapat tawaran beasiswa untuk belajar dan mengajar di salah satu universitas Islam di Jakarta. Bahkan ada yang menawarkan dia untuk kuliah dengan beasiswa gratis di Arab, tapi semua itu ditolak dengan alasan sang ibu tidak mengijinkan.  Dan setiap kali pasien meminta izin dari orang tua pasti si ibu melarang bahkan meminta pasien untuk cuti saja daripada terus-menerus sakit kepala. Saya juga tidak tau apakah pasien ini adalah anak tunggal dari si ibu ini atau bagaimana. Tapi setiap kali pasien berdebat dengan si ibu saat itu juga sakit kepalanya kambuh dan bertambah nyeri. Nah, itulah yang disebut dengan nyeri kepala non organik. Si anak merasa tak diterima dan kemudian sakit kepala, dan si ibu (pasti) merasa was-was, takut, khawatir terhadap anaknya dan ujung2nya juga menimbulkan sakit kepala non organik.

Berangkat dari pengalaman si pasien, kita pasti sering menemui kasus-kasus diatas. Jangankan untuk beasiswa, kalau ada suatu usul kita yang tidak diterima orang lain kita pasti terus-menerus memikirkannya.

Nah, saya malah sering berada di posisi sang ibu. Bukan karena saya perempuan atau apa. Tapi, saya sering sakit kepala sendiri saat ada kata-kata "tidak boleh", "saya gak setuju" keluar dari mulut. Jangankan yang keluar dari mulut, hampir tiap hari kepala saya memikirkan hal-hal negatif dari sesorang yang membuat saya sakit kepala. Mungkin kita sering melarang seseorang yang sangat dekat dengan kita atau memikirkan "sesuatu yang negatif" tentang seseorang walaupun itu belum tentu benar terjadi..
Hey, kamu tau! pikiran kita yang menentukan siapa kita. Kalau kamu terus memikirkan hal-hal yang kuatir, negatif, jelek dan sebagainya maka itu senantiasa mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk melakukan dan berbuat demikian. Kalian pernah alami? Ketika kalian sedang berada pada situasi yang menuntut kalian untuk berbuat sesuatu yang tidak kalian kuasai. Kalian mungkin bilang: "ah, aku kayaknya gak bisa deh" atau "ah, ini sih gak mungkin dikerjakan" percayalah, hal itu terus menggerogoti otak kalian dan kalian tidak berhasil melakukannya. Sebaliknya ketika kalian berkata "mungkin kalau saya mencoba saya pasti bisa" atau "saya mungkin masih junior, tapi apa salahnya dicoba, yang penting kita berusaha" yakinlah sedikit hal positif yang berusaha ditanamkan di pikiran akan membuat segala sesuatunya lebih mudah.

Mungkin beberapa orang berpikir "ah, teori mah mudah, prakteknya yang susah"! Memang!! saya akui itu... Untuk beberapa tahun saya hidup dengan digerogoti pikiran-pikiran jelek dan negatif tentang orang lain, dan itu membuat saya mencap orang lain tersebut dengan baik. Setiap kali saya ingin berpikiran positif pasti ada aja kejadian yang membuat saya mundur lagi ke hal-hal jelek. Ya! gak mudah memang, dan gak mungkin langsung dalam sekejab kamu menghipnotis diri sendiri untuk berpikiran yang baik, namun jika kamu memulainya dengan hal-hal kecil kamu pasti bisa.

Saat kita berpikir tidak akan mampu menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan kepada kita, maka kita pun takkan bisa menyelesaikan semua pekerjaan tersebut. It’s all about mindset
Dengan selalu berpikir positif, sikap dan perilaku kita akan menjadi positif. Sebaliknya, jika berpikiran negatif, pengaruhnya akan buruk terhadap diri sendiri. Pikiran itu seperti doa. Apa yang dipikirkan jelek, akan benar menjadi jelek.

The next time that you find yourself feeling "bad" don’t start asking, "Who did this to me?" Don’t start looking around for the external cause of your problems. What you should do is to ask yourself, "What have I been thinking?" "What have I been telling my self?" You may find that your inner dialogue has put you deep into emotional distress.

Kisah inspirasi untuk para istri dan suami

Husbands Dream


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Unconditional Love


 (secara tak sengaja)
saya tidak tahu kenapa setiap baca cerita ini pasti saya posting terus :)
dan ini kesekian kalinya saya me-repostnya lagi..
yang pasti saya tidak pernah bosan membacanya..

...
Lima tahun usia pernikahanku dengannya, sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan di antara kami.
Kami bertengkar karena hal-hal kecil.
Karena dia lambat membukakan pagar saat aku pulang dari kantor.
Karena meja di sudut ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku. “buang-buang uang saja” begitu hardikku.
Hari ini adalah ulang tahunnya. Kami bertengkar pagi ini karena dia terlambat membangunkanku.
Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa ku lakukan di hari ulang tahunnya tak mau ku lakukan.
Malam sekitar pukul 7, dia sudah berulangkali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya. Tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan; membayangkan pulang; dan bertemu dengannya, membuatku semakin kesal!
Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, 2 jam perjalanan kutempuh yang biasanya hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai dirumah.
Kulihat dia tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA Kelas 1 semester akhir; yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik…”
Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.
Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku cokelat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun dia menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah sekalipun ia mengijinkanku untuk membukanya.
Inilah saatnya! Aku tak memperdulikan istriku, kuraih buku cokelat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

25 Februari 1997
Terimakasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, seseorang yang akan menjadi penjaga terakhirku.
Hmm… aku tersenyum, yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.
6 September 2002
Tak sengaja kulihat dia makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar dia tidak pindah ke lain hati.
Jantungku serasa mau berhenti..
23 Oktober 2002
Aku menemukan sms ucapan terimakasih untuk dia, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly Siapakah dia Tuhan?
Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui…
Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengannya telah mencapai 5 tahun.
4 Januari 2003
Aku dihampiri wanita bernama Melly, ia menghinaku dan mengatakan bahwa pacarku berselingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan…
Bagaimana mungkin dia sekuat itu? Ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah mengkhianatinya, Aku tahu Melly, Melly  pasti telah membuat hatinya hancur dan sangat terluka dengan kata-kata tajam dari mulutnya.
Nafasku sesak… tak mampu kubayangkan apa yang dirasakannnya saat itu.
25 Februari 2003
Dia melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Berikan Aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil..
25 Februari 2004
Hari minggu yang luar biasa, Aku telah menjadi Nyonya dari suami sah ku ;) Terimakasih Tuhan..
18 Juli 2006
Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan the untuknya. Tuhan, Bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku..
7 April 2007
Dia marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada di Mall mencari jam idamannya, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hatinya agar ia tidak marah lagi padaku.
Aku tidak akan tidur di sore hari lagi kalau dia belum pulang walaupun aku lelah..
Aku mulai menangis, ia mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak ku sadari ia membelikannya dengan susah payah.
15 November 2007
Ia perlu meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, ia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, Bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja..
Aku tak dapat menahan tangisanku, dia tak pernah mengatakan meja itu hadiah untuk ku..
Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Dia sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat.
Aku berlari keluar kamar, kukecup keningnya dan ia terbangun…
“Maafkan Aku.. Aku mencintaimu, Selamat Ulang Tahun…”
————————–
NB:
*Jika terdapat kesamaan nama atau kejadian, percayalah itu hanya kebetulan belaka )


(copyy-paste dari salah satu web)

Different Blood Types Comic (Part II)

lanjutan dari http://siskamendrofa.blogspot.com/2011/08/different-blood-types-comic-part-i.html

13. When different blood types are given a set of rules
 14. When different blood types are asked to hang a painting
 15. When different bloody types are playing games
 16. When blood type B is reading a book about blood type analysis
 17. Different blood types as depicted as spaces
 
18. The internal world of different blood types

 19. The reason why different blood types are unlikeable
 20. When different blood types face with punctuality

 21. When different blood types try to express themselves
22. The purpose of their lives
 
 23. When different blood types study
 
24. The uniqueness of each blood types
 

Different Blood Types Comic (Part I)

These cartoons are depicting how each blood types reacts to certain situation or what's their intrinsic attributes. Though it may not be all accurate but it is still a great entertainment.

Hope you'll enjoy it. If you want some explanations to all the images, you may visit Jack's blog at http://oneidea2day.wordpress.com. He does write a lot! :p


1. When different blood types have a 3PM appointment

2. When different blood types are at the canteen




 3. If the female blood type B is a cat
 4. When blood type A communicates to blood type B

5. When blood type AB communicates to blood type O
  
6. Degree of patience for each blood type
 
7. When different blood types are driving
 
8. When different blood types are complaining about something unplesant
 9. When different blood types are facing crisis
 10. When different blood types gossip
  
11. When other blood types are trying to figure out what AB is doing
 12. If the internal wold of each blood types is being represented as a house
 

=Stress=

Pada tau kan stress itu apa??
Pasti juga pernah mengalaminya...
Saya?! Tentu!!! Apalagi akhir-akhir ini dihadapkan dengan tugas koas yang harus diselesaikan dalam waktu seminggu krn libur lebaran. Udah gitu jatah libur gak ada plussss..gigitan nyamuk yang ganasssss.. hahaha..



Pernah gak kebayang, kalo stress itu bukan cuma pas lagi gak mood atau lagi pengen "meledak-ledak"? ternyata stress itu malah di mulai ketika kita lagi semangat2nya mengerjakan sesuatu sampai terjadi kejenuhan dan kita meninggalkan kebiasaan kita selama ini..
Yuk, diintip...

Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Amberg (dalam Hawari, 2001) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :

1. Stres tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut: 1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting); 2) Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya; 3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.

2. Stres tahap II
Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut: 1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar; 2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang; 3) Lekas merasa capai menjelang sore hari; 4) Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort); 5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar); 6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang; 7) Tidak bisa santai.
3. Stres Tahap III
Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu: 1) Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan “maag”(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare); 2) Ketegangan otot-otot semakin terasa; 3) Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat; 4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia); 5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa loyo dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.

3. Stres Tahap IV
Gejala stres tahap IV, akan muncul: 1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit; 2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit; 3) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate); 4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari; 5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan; 6) Daya konsentrasi daya ingat menurun; 7) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.

4. Stres Tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: 1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion); 2) Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana; 3) Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder); 4) Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.

6. Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut: 1) Debaran jantung teramat keras; 2) Susah bernapas (sesak dan megap-megap); 3) Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran; 4) Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan; 5) Pingsan atau kolaps (collapse). Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

(Dr Howard Kelly) ..Lunas dengan segelas susu..

Ada seorang anak lelaki miskin.
Ia sangat lapar,tapi tak punya uang. Anak itu memutuskan mengetuk pintu sebuah rumah untuk meminta makanan.
Namun keberaniannya lenyap saat pintu dibuka oleh seorang gadis muda
Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya meminta segelas air
Gadis itu tahu, anak ini pasti lapar
Maka, ia membawakan segelas besar susu.
"Berapa harga segelas susu ini?" tanya anak lelaki itu.
"Ibu mengajarkan kami, jangan minta bayaran atas perbuatan baik kami." jawab si gadis muda iΕ§Ο….
"Aku berterima-kasih dari hati yg paling dalam...!" balas si anak lelaki dan si anak lelaki tsb berusaha untuk mengetahui nama gadis yg telah menolongnya itu .

Sekian tahun berlalu … Gadis itu tumbuh menjadi wanita dewasa , suatu ketika dia  mengalami sakit kronis , para Dokter di kota kecilnya telah angkat tangan semuanya , lalu ia dibawa ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis , Dokter Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.
Pada saat si Dokter tahu nama kota asal wanita itu, terbersit pancaran aneh dimata dokter tsb .
Bergegas ia turun dari kantornya di lantai atas menuju kamar wanita tersebut,
dalam balutan baju putih kedokterannya, ia langsung mengenali wanita iΕ§Ο…. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya wanita itu bisa disembuhkan
Wanita itu menerima amplop tagihan RS dalam ketakutan , karena ia tahu Ia tak akan mampu membayar, meski dicicil seumur hidup , dengan tangan bergetar, ia membuka amplop itu, & menemukan catatan dipojok atas tagihan...
"Telah dibayar lunas dengan segelas susu"
Tertanda,
Dr. Howard Kelly.

Wanita itu akhirnya berusaha mengingat-ingat kejadian yg sebenarnya sudah hampir terlupakan , setelah lama mengingat-ingat akhirnya dia menyadari bahwa dokter ini adalah bocah lelaki miskin yg pernah diberinya segelas susu hangat , tentu ia tak mengira kalau pada suatu hari dia diselamatkan berkat segelas susu yg pernah dia berikan sekian tahun yang lalu .

Cerita diatas itu adalah kejadian yang benar2 terjadi dan itu memberi teladan pada kita untuk tidak ragu berbuat baik & tidak mengharapkan balasan atas perbuatan baik karena pada akhirnya, buah perbuatan akan selalu mengikuti kita.

Siapakah dr. Howard Kelly?
Ia tak lain adalah anak kelaparan yang pernah ditolong wanita tsb.
Cerita ini disadur dari buku pengalaman Dr.Howard Kelly dalam perjalanannya melalui Northern Pennsylvania .
Dokter Howard Kelly adalah dokter yang sangat dihormati , Pada tahun 1895, ia mendirikan Division of Gynecologic Oncology di John Hopkins University.

Note :
Dari cerita diatas Dr. Howard Kelly telah memberikan kita pelajaran bahwa betapapun kecilnya budi dan pertolongan yg kita terima dari orang lain harus berusaha kita balas .
Si Wanita itupun juga memberi kita pelajaran bahwa bila kita menolong orang maka tolonglah dgn penuh kerelaan & keikhlasan tanpa mengharapkan suatu balasan .
Bila kita menolong orang dengan mengharapkan balasan itu artinya kita Bukanlah Menolong dengan Tulus melainkan kita sedang melepas Hutang yang pada suatu ketika akan kita tagih.

Semoga cerita diatas bisa menambah wawasan dan menginspirasi kita semua .

Kisah Nyata: Akibat dari Prasangka Negatif

Seorang janda miskin Siu Lan punya anak berumur 7 tahun yang bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue di pasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.
Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei dirumah. Siu Lan langsung sangat marah. Putrinya benar-benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.
Sepulang dari jual kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung-raung, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak.
Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah. Siu Lan mengguncang-guncang tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.

Tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yg dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tetapi masih dapat dibaca,
“Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar, Mama selamat ulang tahun”.

KISAH NYATA ini dimuat di harian Xia Wen Pao-China, tahun 2007.
Moral dari kisah ini: Prasangka Negatif, dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup. Berpikirlah dengan bijak sebelum bertindak, penyesalan kemudian tak ada gunanya.

Jangan Sedih, Berbahagialah!

Jangan memendam perasaan jengkel, marah atau tertekan. Atau terlalu stres terlalu lama, atau meluapkan kemarahan. Jika suasana hati ini menjadi kebiasaan berpikir, mereka akan mempengaruhi kesehatan Anda, akan menambahkan kerutan pada wajah Anda dan membuat Anda cepat tua.
Mempertahankan suasana hati dan jiwa yang baik bagi kesehatan adalah rahasia wanita tradisional Tiongkok untuk kecantikan dan kesehatan - yang juga berlaku untuk laki-laki.
Kehidupan naik dan turun, perasan gembira ataupun perasaan sedih dan khawatir ada pengaruhnya bagi kesehatan Anda. Perubahan suasana hati yang mendadak atau kelabu, dapat menganggu aliran energi internal dan merusak organ-organ.
Kendalikan suasana hati, itulah pepatah Tiongkok kuno, meski ini seringkali sulit. Hidup rentan stress dan rumit.
Ilmu kedokteran Barat juga tahu bahwa stres jangka panjang dan bisa memicu paparan kortisol (hormon stres) yang dapat menyebabkan jantungan, gugup, masalah metabolisme, masalah kekebalan tubuh, dll
Dalam ilmu kedokteran tiongkok ada istilah 7 perasaan, yaitu: gembira, marah, khawatir, sedih, takut, shock (kaget), dan pikiran.
Perasaan ini tidak begitu saja dapat terdeteksi pada ekspresi wajah. Ilmu kedokteran Tiongkok percaya bahwa psikolgis seseorang erat kaitannya dengan organ-organ tertentu dan aliran energi.
Energi di wu Zang (lima organ internal) mendukung perubahan suasana hati, menurut "Huang Di Nei Jing" ("Kedokteran Klasik Kaisar Kuning"), dasar klasik dari ilmu kedokteran tiongkok.
Energi di jantung mendukung kebahagiaan; energi hati terpakai untuk marah; energi limpa terpakai untuk khawatir dan berpikir; energi paru-paru untuk kesedihan; energi ginjal untuk takut dan kaget.
Oleh karena itu, terjebak dalam suasana hati tertentu terlalu lama akan mengkonsumsi banyak energi di organ terkait dan dapat menimbulkan kerusakan. Karena organ-organ tidak terisolasi tetapi saling terkait, kerusakan di satu organ dapat menyebabkan gangguan yang lain. Sebagai contoh, bila hati terluka (katakanlah, terlalu banyak marah), lambung dan limpa biasanya merupakan organ selanjutnya yang mengalami energi yang tidak teratur.
Perubahan dramatis (yang tiba-tiba) pada suasana hati juga dapat merusak kesehatan, mengubah arah aliran energi dengan emosi kita yang kuat.
Buku “Huang Di Nei Jing” menjelaskan perubahan energi yang dihasilkan dari suasana hati yang berbeda. Ketika orang marah, energi dalam hati akan mengalir ke atas kepala, membuat wajah memerah.
Kemarahan tiba-tiba yang ekstrim dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah, beberapa orang bahkan pingsan atau memuntahkan darah. Orang yang memiliki hipertensi (tekanan darah tinggi) bisa terserang stroke atau kerusakan syaraf otak.
"Terapi tusuk Darah" adalah P3K (darurat) yang digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional tiongkok pada kejadian pendarahan otak (stroke);  terapis menusuk ujung jari pasien dan memeras darah untuk mengurangi akumulasi energi dan darah di kepala. Pastikan Anda menelepon layanan darurat pada waktu yang sama.
Kebahagiaan dan pandangan-pandangan positif pada diri seseorang menguntungkan kesehatannya, karena dapat melepaskan kegugupan dengan cara memperlambat aliran energi. Namun, euforia yang berkepanjangan juga tidak sehat karena terlalu banyak menarik energi dari hati. Ini dapat menyebabkan kesulitan dalam berkonsentrasi.
Ada cerita terkenal tentang sarjana berusia 50 tahun, Fan Jin pada Dinasti Ming (1368-1644) yang telah mencoba berkali-kali dan gagal dalam ujian kekaisaran. Ketika ia akhirnya lulus, dia begitu gembira dan lupa daratan. Akhirnya, ayah mertuanya, seorang pria yang ditakutinya, harus menamparnya mengejutkan dia dan mengembalikannya pada kewarasan.
Duka yang berkepanjangan, terlalu banyak kesedihan yang terlalu lama, mengkonsumsi energi di paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas.
Ketika orang takut dan gugup, energi ginjal mengalir ke bawah. Itu menjelaskan mengapa beberapa orang yang menahan takut menjadi mengompol.
Kejutan secara tiba-tiba mengganggu aliran energi dan energi menjadi tidak stabil dan tidak teratur. Orang-orang terlihat panik dan bahkan lenyap akal sehatnya.
Terlalu banyak berpikir - memikirkan masalah dan merenung - dan kesedihan akan menyebabkan energi di limpa mengalami kemandekan. Hal ini dapat berakibat buruk pada nafsu makan dan tidur. Seiring waktu hal ini dapat menyebabkan kulit menjadi lebih gelap.

Saat sedang sedih, pikirkan hal menyenangkan, atau ajak teman-teman melakukan hobi bersama
Saat sedang sedih, pikirkan hal menyenangkan, atau ajak teman-teman melakukan hobi bersama
Untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh suasana hati, "terapi suasana hati" adalah lebih efektif daripada menelan obat-obatan. Konsep obat "saling menghambat" di antara lima suasana hati adalah teori dasar terapi suasana hati.
Buku “Huang Di Nei Jing” menyatakan: "Kebahagiaan menghambat kesedihan; kesedihan menghambat kemarahan; takut menghambat kebahagiaan; kemarahan menghambat pikiran dan rasa khawatir; pikiran menghambat rasa takut dan kaget."
Oleh karena itu, Buku “Huang Di Nei Jing” menyarankan: Jika anda tertekan atau sedih,  pikirkanlah hal-hal menyenangkan dan ambil bagian dalam kegiatan atau 
aktivitas / hobi yang menyenangkan dapat membantu melipur lara. Teman-teman juga dapat membantu.
Menangis terlalu banyak tidak membantu. Menenggak minuman juga tidak benar-benar membantu. Anda masih sedih ketika anda mabuk.
Ketakutan adalah perasaan umum saat menghadapi sesuatu yang tidak diketahui. Belajar tentang peristiwa yang tidak diketahui, hal atau orang yang Anda takuti dapat membantu Anda mengatasi rasa takut itu.
Demikian pula, berita sedih dapat meredakan amarah dan mengembalikan keseimbangan. Sebuah kejutan kadang-kadang dapat menghidupkan kembali orang yang telah kehilangan kesadaran karena euforia. Kemarahan seseorang yang murung terlalu banyak atau "terlalu banyak berpikir" bisa melarutkan energi stagnan dan darah di dalam limpa.


up